Kamis, 06 Maret 2008

Kontes Indosiar Menipu?

Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di televisi, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan. Banyak di antara mereka yang hidup terlilit hutang ratusan juta rupiah. Pasalnya, orang tua mereka berhutang kesana dan kesini untuk membantu anak mereka agar tetap bertahan pada acara tersebut . Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang berasal dari pilihan publik.

Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua mereka sanggup menghabiskan uang untuk sms. Orang tua Alfin dan Bojes menghabiskan sekitar 1 M. Namun mereka orang kaya tetapi tidak bagi yang kurang mampu seperti Fibri (AFI 2005) yang tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Saat ini ia hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal RP 500.000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kos itu sederhana, bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah buat Fibri. Tidak ada hidup glamor layaknya artis pada umumnya.

Ada banyak korban yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll. Mereka terikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, tidak bisa cari pekerjaan di luar Indosiar. Bayaran di Indosiar sangat kecil.

Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh pabrik dengan gaji Rp 900.000 jauh lebih sejahtera dibandingkan mereka.

Acara sejenis ini masih banyak, contohnya Pildacil. Banyak orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang dalam jumlah yang sangat besar.

Judi SMS semakin marak di Indonesia .

Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan. Tengok saja misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, Putri Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyi terbaik. Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium. Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum -- setidaknya sampai saat ini.
Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server dan komputer yang
terhubung ke Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya

Di Malaysia judi SMS sudah lama dilarang.

Berita ini masi belum dapat dibuktikan keabsahannya secara fakta masih berupa gosip yang beredar di kalangan masyarakat

Sumber detikforum

gudangrental

Tidak ada komentar: